Transjakarta dan LRT Terintegrasi, Mirip Bandara Internasional


Integrasi Transjakarta dan kereta ringan atau Light Rapid Transit (LRT) mulai dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Jembatan penghubung akan dibangun antara halte Transjakarta dan Stasiun LRT.

Pengintegrasian bertujuan untuk mendorong masyarakat menggunakan transportasi massal. Dengan demikian rencana pengurangan volume kendaraan pribadi diharapkan dapat tercapai.

Direktur Utama PT LRT Jakarta, Allan Tandiono, mengatakan, penjajakan perdana akan dilakukan melalui penyatuan Stasiun Velodrome dengan halte Bundaran Rawamangun di Jakarta Timur. Keduanya akan dihubungkan dengan jembatan penghubung (skybridge).

“Yang membangun adalah PT Jakpro. Saat ini integrasi kita lakukan secara bertahap, sedikit demi sedikit,” ujar Allan kepada KORAN SINDO, Minggu (13/1/2019). (Baca juga: Jelang Operasional, PT LRT Tunggu Penentuan Tarif oleh Pemprov DKI)

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo dalam rapat terbatas (ratas) mengungkapkan, kemacetan di Jabodetabek menyebabkan masyarakat kehilangan produktivitas hingga Rp65 triliun per tahun. Kerugian ini harus segera diminimalisir dengan integrasi pengelolaan sarana serta layanan transportasi. 

Dalam integrasi Transjakarta dan LRT itu, kata Allan, skybridge hanya berjarak kurang dari 200 meter dengan ketinggian hampir 10 meter. Skybridge ini juga ramah disabilitas, sebab akses masuk dari halte Transjakarta menggunakan pelican crossing, sedangkan dari Stasiun menggunakan lift. (Baca juga: Februari, LRT Kelapa Gading-Velodrome Siap Beroperasi)

Kemudian di tengahnya terdapat mesin tapping yang bisa digunakan untuk LRT dan Transjakarta. Allah menyebut integrasi ini layaknya sebuah bandara internasional. Dimana dalam bandara internasional setiap penumpang pesawat tidak perlu keluar bandara dan langsung berpindah tanpa melewati imigrasi.

Allan yakin, adanya integrasi memberikan dampak positif bagi LRT. Penumpang akan meningkat seiring limpahan penumpang Transjakarta. Sebab menggunakan LRT-TransJakarta ke Stasiun LRT Sudirman dari Kelapa Gading, maupun sebaliknya, hanya membutuhkan waktu satu jam. “Dengan catatan rumahnya dekat stasiun. Ya, kalau macet di jam sibuk bisa dua jam,” ucapnya.

Menurut Allan, lima Stasiun LRT di sepanjang Velodrome-Kelapa Gading akan diintegrasikan dengan Transjakarta. Baginya, integrasi itu bukan hal sulit karena banyak lokasi stasiun di persimpangan jalan

“Kawasan Kayu Putih, Pulomas, hingga Kelapa Gading, kemungkinan akan kita pasang. Itu enggak sulit bagi kita,” kata Allan.

Termasuk soal rencana fase dua hingga Tanah Abang, pembuatan stasiun akan disesuaikan dengan mapping dari Transjakarta dan Mass Rapid Transit (MRT). Dengan begitu nantinya tidak sulit untuk mengintegrasikannya.

“Sesuai dengan instruksi Gubernur DKI. kami akan pastikan koridor yang dibangun berkesinambungan dengan rencana dengan koridor Transjakarta,” pungkasnya.