Terus Menguat, Rupiah Bisa Capai 13.800 per Dolar AS


Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami penguatan. Pada Senin (7/1/2019) pagi ini, rupiah dibuka pada level 14.177 per dolar AS, menguat dibanding penutupan perdagangan kemarin pada 14.270 per dolar AS.

Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memperkirakan, kurs rupiah pada 2019 ini bisa terus menipis hingga mencapai 14.800 per dolar AS.

Ekonom INDEF Bhima Yudhistira mengatakan, faktor perkasanya rupiah bisa dilacak dari pelemahan ekonomi global di AS dan China. Hal itu membuat investor memindahkan dananya ke negara berkembang seperti Indonesia.

"Sebagai indikator, dolar AS melemah terhadap hampir seluruh mata uang dominan lainnya. Dollar index menurun -1,25 persen dalam sebulan terakhir sehingga berada di level 96," jelas dia kepada Liputan6.com, Senin (7/1/2019).

Dia menyebutkan, kondisi tersebut mirip dengan post krisis global 2008 dimana resesi AS menjadi berkah bagi negara berkembang lantaran masuknya capital inflow yang cukup deras.

Di sisi lain, ia menambahkan, yield atau imbal hasil surat utang Indonesia semakin menarik asing karena menyentuh level 8,1 persen untuk tenor 10 tahun.

"Yield spread antara SBN dan treasury bond makin lebar. Investor akhirnya berburu return yang tinggi," ungkap dia.

Tak hanya itu, lanjutnya, aliran dana di pasar modal juga terpantau cukup deras. "Dalam seminggu terakhir, investor asing melakukan pembelian bersih saham Rp1,88 triliun," sambungnya.

Oleh karenanya, Bhima menyatakan, rupiah pada tahun ini bisa terus membaik sampai 13.800 per dolar AS. Dengan catatan, investor mau mengambil langkah wait and see pada tahun politik ini.

"Rupiah berpotensi bertahan di 13.800-14 ribu jika data ekonomi global semakin memburuk. Tapi masih ada resiko jelang Pemilu yang buat investor wait and see. Rupiah masih rentan berbalik arah ke 15 ribu hingga akhir tahun ini," pungkasnya.