Keluarga Co Pilot Lion Air JT610 Tuntut Boeing


Keluarga Co Pilot Lion Air JT610 yang jatuh pada bulan Oktober lalu mengajukan gugatan terhadap Boeing Co di Chicago. Gugatan ini menambah deretan tuntutan terhadap produsen pesawat komersil itu di kota asalnya.

Gugatan tersebut diajukan pada hari Jumat waktu setempat di pengadilan sirkuit wilayah Cook, Illinois. Dalam gugatannya, pihak keluarga menuding Boeing 737 MAX 8 yang dioperasikan Lion Air berbahaya karena sensornya memberikan informasi yang tidak konsisten kepada pilot dan pesawat seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (29/12/2018).

Boeing menolak berkomentar tentang proses pengadilan yang tertunda.

Pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT610 jatuh ke Laut Jawa setelah lepas landas dari Jakarta pada 29 Oktober lalu. Peristiwa itu menewaskan seluruh penumpang dan awak pesawar yang berjumlah 189.

Tuntutan diajukan atas nama janda pilot Harvino dan tiga anaknya, yang semuanya berasal dari Jakarta. Tuntutan ini juga menyebut bahwa instruksi manual yang disediakan oleh Boeing dengan pesawat berusia dua bulan tidak cukup, yang menyebabkan kematian pilot, kru dan penumpang.

Dalam sebuah pernyataan, firma hukum Gardiner Koch Weisberg & Wrona mengatakan Harvino dan Kapten Penerbangan Bhayve Suneja sama-sama pilot berpengalaman, setelah mencatat lebih dari 5.000 dan 6.000 jam terbang sebelum bencana itu terjadi.

Setidaknya dua tuntutan hukum lainnya telah diajukan terhadap Boeing di Chicago oleh para korban Lion Air.

Sebuah laporan pendahuluan oleh para penyelidik Indonesia berfokus pada pemeliharaan dan pelatihan maskapai penerbangan dan respons anti-stall system Boeing terhadap sensor yang baru saja diganti tetapi tidak memberikan alasan bagi kecelakaan itu.

Salah satu penyelidik, Nurcahyo Utomo, mengatakan kepada wartawan bahwa masih terlalu dini untuk menentukan apakah versi baru anti-stall system, yang tidak dijelaskan kepada pilot dalam manual, merupakan faktor penyebab.