Pada hari ini Tahun 1922, 2 Pria Inggris Berhasil Menembus Makam Firaun Tutankhamun


Hari ini, 96 tahun yang lalu, di Lembah Para Raja, Mesir, arkeolog Inggris Howard Carter dan bangsawan Lord Carnarvon menjadi orang pertama yang memasuki makam Raja Tutankhamen (Raja Tut) dalam lebih dari 3.000 tahun.

Ruang pemakaman tertutup Tutankhamen secara ajaib utuh, dan di dalamnya ada koleksi beberapa ribu obyek yang tak ternilai, termasuk peti mati emas yang berisi mumi raja remaja, demikian seperti dikutip dari History.com pada Minggu (25/11/2018).

Berawal dari permintaan Lord Carnarvon, bangsawan Inggris yang tertarik pada ilmu Mesir kuno, ditemukanlah ia dengan Howard Carter. Pria yang memimpin sejumlah penggalian di Thebes, (sekarang dikenal sebagai Luxor) sebelum dipindahkan pada 1904 untuk Inspektorat Mesir Hilir.

Carter adalah seorang penggali yang brilian, dan pada tahun-tahun pertama abad ke-20 ia menemukan makam Ratu Hatshepsut dan Raja Thutmose IV.

Usai pertemuan keduanya yang digagas Gaston Maspero, Carnarvon pun menjadi sponsor eskavasi makam raja-raja di Thebes yang dilakukan Howard Carter. Salah satunya makam Tutankhamun di Lembah Para Raja, Mesir.

Carter kemudian dipekerjakan oleh Carnarvon untuk mengawasi penggalian baru pada 1907, dengan menerapkan metode arkeologi dan sistem pencatatan modern dalam penggalian-penggalian tersebut.

Pada 1913, sebagian besar ahli merasa tidak ada apa pun di Lembah yang tersisa untuk diungkap. Carter dan Carnarvon bagaimanapun, bertahan dalam usahanya, yakin bahwa makam Raja Tutankhamen yang kurang dikenal mungkin masih dapat ditemukan.

Lord Carnarvon terus membiayai penggalian Carter di Lembah Para Raja dari 1914, meski sempat terhenti oleh Perang Dunia I sampai 1917. Namun ia menjadi tidak puas karena penggalian bertahun-tahun itu tanpa hasil memadai. Dan pada 1922, dia memberitahu Carter bahwa dana hanya akan diberikan satu musim lagi.

Pada 4 November 1922, kelompok penggalian Carter menemukan tangga menuju makam Tutankhamun yang merupakan makam Firaun yang paling utuh yang pernah ditemukan di Lembah Para Raja. Ia segera memberitahukannya pada Lord Carnarvon.

Pada 26 November 1922, bersama Lord Carnarvon, putrinya dan beberapa orang lain, Carter membuat sebuah lubang kecil hingga ia mampu melihat ke dalam. Dengan cahaya lilin, Carter pun dapat melihat betapa banyaknya harta yang masih tertinggal di tempat tersebut.



"Bisakah kau melihat sesuatu?" ucap Lord Carnarvon menanyakan Carter.

"Ya, benda-benda menakjubkan," jawab Carter dikutip dari Lord Carnarvon's description, 10 December 1922, London: British Museum halaman 141.

Beberapa bulan kemudian, Lord Carnarvon meninggal dunia di Hotel Continental-Savoy, Kairo, Mesir. Kematiannya menjadi bahan spekulasi, termasuk kisah "Kutukan Tutankhamun" atau Kutukan Firaun.

Walaupun demikian, kematiannya kemungkinan disebabkan bakteremia akibat gigitan nyamuk yang terinfeksi bakteri erisipelas.

Sementara Howard Carter bertahan hidup hingga enam belas tahun berikutnya, sempat melanjutkan penggalian di makam dengan ribuan benda temuan tersebut hingga 1932.

Namun setelah penemuan sensasional tersebut, Howard Carter pensiun dari arkeologi dan menjadi agen paruh waktu untuk kolektor dan museum, termasuk Cleveland Museum of Art dan Detroit Institute of Arts. Ia mengunjungi Amerika Serikat pada 1924, dan memberikan serangkaian kuliah di berbagai kota.

Carter meninggal karena penyakit Limfoma, sejenis kanker, di Kensington, London pada 2 Maret 1939 di usianya yang ke-64 tahun. Kematian arkeolog ini terjadi lama setelah pembukaan makam. Hal ini cukup membuktikan bahwa kutukan Firaun, yang menyebutkan bahwa pihak yang memasuki makam Firaun di Mesir akan tertimpa sial, sakit, bahkan mati, ternyata tidaklah terbukti.